Jenderal Soedirman adalah Pahlawan Nasional, yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden No. 314 Tahun 1964.
Soedirman sangat berjasa dalam perjuangan (mempertahankan) kemerdekaan Indonesia. Seperti tampak dalam sekilas jejak perjuangannya ini:
Pada 19 Desember 1948, Soekarno-Hatta ditangkap saat Agresi Militer Belanda II yang dipimpin Jenderal Simon Hendrik Spoor dengan Operasi Gagak-nya. Soedirman memilih berangkat perang dan memerintahkan tentara melakukan Perang Gerilya yang dilakukan sepanjang Yogyakarta, Wonogiri, Kediri, hingga Pacitan.
Soedirman memerintahkan Soeharto memimpin Serangan Umum ke Yogyakarta pada 1 Maret 1949.
Pada 20 Mei 1949 Jenderal Spoor tewas di restoran De Jachtclub Jakarta, diduga karena diracun. Operasi mliter Belanda dipimpn D.E.A van Langen.
Pada 3 Agustus 1949 Presiden Soekarno memerinahkan gencatan senjata. Soedrman tak setuju dan membuat surat pengunduran diri, tapi dibatalkan.
Terjadi Konferensi Meja Bundar di Den Haag. Hasilnya Belanda mengakui Nusantara sebagai Republik Indonesia Serikat. Soedriman bersama Soekarno-Hta kembali ke Jakarta.
Saat memimpin Perang Gerilya, Soedirman mengidap penyakit TB (Tuberculosis) sampai dia harus ditandu. Dia pernah dirawat di Panti Rapuh, Oktober-November 1948 dan Agustus-Oktober 1949.
Soedirman wafat tanggal 29 Januari 1950 di Magelang Jawa Tengah dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Semaki Yogyakarta.
Soedirman Pahlawan Kader Muhammadiyah
Semua orang tahu Soedirman adalah pejuang bangsa. Tapi mungkin tidak semua orang tahu Soedirman adalah pejuang bangsa kader Muhammadiyah. Dia adalah kader Hizbul Wathan. Soedirman juga pernah aktif di Pemuda Muhammadiyah dan menjadi guru di sekolah Muhammadiyah.
Berbagai aktivitas itu membuka jalan untuk berkenalan dengan Sastroatmodjo, pengusaha sukses di Cilacap. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Cilacap ini mempunyai seorang putri bernama Siti Alfiah, yang kelak menjadi istri Soedirman.
Soedirman muda kerap datang ke rumah Mbah Sastro membicarakan berbagai masalah organisasi. Lambat-laun dia menjadi akrab dengan Alfiah, yang aktif di Nasyiaul Aisyiyah—atau populer disebut Nasyiah—organisasi keputrian Muhammadiyah.
Tak Surut Usai Menikah
Alih-alih surut, setelah menikah, semangat berorganisasi Soedirman semakin menggelora.
Hari mulai gelap ketika hujan turun disertai sambaran petir. Saking derasnya hujan, Hayyun bercerita, air merembes hingga pelan-pelan membasahi bagian dalam tenda.
Sebagian dari seratusan peserta asal Banyumas, Purbalingga, Cilacap, dan Banjarnegara berteduh ke rumah-rumah penduduk.
“Tapi Pak Dirman tetap berada di dalam tenda,” kata Hayyun yang juga Ketua Hizbul Wathan Cilacap, kepada Tempo.
Tak perlu waktu lama, beberapa koperasi lainnya lahir di Cilacap, sehingga menimbulkan persaingan yang tak sehat. Lagi-lagi Soedirman turun tangan menyatukan koperasi-koperasi tadi dalam Persatuan Koperasi Indonesiaa Wijayakusuma.
Dia juga membentuk Badan Pengurus Makanan Rakyat yang mengumpulkan makanan dan mendistribuskanya pada masyarakat yang membutuhkan. Sejak saat itu nama Sodirman melambung di Cilacap. Jepang kepincut dan mengangkatnya sebgai Syu Sangikai alias Dewan pertimbangan Karesidenan Cilacap. (*)
Sumber:Soedirman Pahlawan Kader Muhammadiyah | PWMU.CO | Portal Berkemajuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar